Saturday, January 26, 2013

Activity: Cooking

Vino suka ikut kegiatan masak memasak di rumah. Mungkin karena sering ngeliat Oma-nya masak. Dimulai dari yang gampang dan sederhana dulu. Petik kacang panjang. Hitung-hitung melatih kekuatan jarinya :P Tapi biasanya setelah itu kacangnya gak boleh diambil, malah diangkut sama truknya :( Kalau pas masak, sofa yang panjang harus dialasi, soalnya jadi kayak pasar pindah. Very messy. Belepotan sana sini. Namanya juga anak-anak. Rasa ingin tahunya besar dan selalu mau ikut-ikut (kadang bikin ribet juga).

Suatu waktu, dapat pisau roti plastik. Iseng-iseng aku kasih ke dia. He was very excited ^__^ Saatnya dikenalkan kegiatan potong memotong dan memegang pisau yang benar. Menurut yang pernah aku baca, lewat aktivitas mengiris dan memotong, anak memusatkan kekuatan menggerakkan pisau pada telapak tangan. Lengan bagian bawah juga mendukung kegiatan mengiris dan memotong. Kegiatan ini butuh konsentrasi dan kesabaran. Dengan memberinya kepercayaan untuk menggunakan pisau, anak  melatih motorik halus, kekuatan lengan, konsentrasi dan kesabarannya.

Percobaan pertama: kulit wortel. Memang betul, Vino terlihat berkonsentrasi dan semangat buat memotong :)



Potong wortel

Kegiatan berikutnya: menggiling. Lihat ada alat baru, langsung antusias pengin ikutan menggiling. Walaupun kadang menyebalkan juga kalau keras kepalanya keluar. Diajarin A, dia maksa pakai cara B. Cape deeeh. Kadang mau nurut, kadang nggak. Banyak maunya.

 
Giling tahu

Giling daging

Sepertinya Vino suka masak. Tiap jamnya masak, dia mesti tanya : "Hari ini masak?" Terus minta sayuran, entah wortel, kacang panjang, sawi atau jagung hehehe...Karena sering ikutan dan semangat kalau waktu memasak, sama Omanya dibikinin apron (bahkan pernah ditungguin waktu bikin).

Dapat apron baru! HOREEE!!!

Langsung dipakai apronnya

Kadang juga suka niru. Mungkin pernah lihat kita kalau masak menambahkan air dan garam, jadi diapun bereksperimen. Waktu aku masak di dapur, dia ikutan sibuk juga. Minta garam, trus ambil air sendiri di dispenser (di luar dapur). Mulanya cuma sedikit, lama-lama AIRnya GALON HABIS!!! Untung waktu itu memang tinggal sedkit airnya. Tapi itu cukup membuat sofa yang malang jadi basah kuyub (OMG!!)

Terakhir, mulai belajar mengocok telur :) Mulai nimbrung di dapur dikit-dikit. Kalau kita lagi potong sesuatu di meja dapur, dia gak kekurangan akal-ambil kursi sendiri trus naik di kursi sambil ngliatin kita lagi ngapain, nanya-nanya, sambil tangan 'nglitis' (pegang ini itu). Hadeeeeh.......
Kemarin malah sibuk ngangkutin kentang buat ditimbang di gudang sebelah dapur. No problem for that, coz aku bisa refresh prinsip timbangan ke dia. Waktu sudah selesai diajak dikembalikan ke tempatnya :)

Meskipun ribut bin ribet kalau masak sama Vino, tapi waktu diingat-ingat sekarang cukup fun dan lucu  :) Dia juga bisa belajar berbagai hal. Sudah tau macam-macam bawang, sayuran, bahkan kluwek juga tau hahaha....Mau besok-besok jadi chef? It's OK, boy  ^__^v








Tuesday, January 22, 2013

Activity: Making finger paint

Sudah lama kepingin kasi aktivitas finger paint buat Vino. Pertama kali lihat di Baby Brain. Terus cari di toko ternyata harganya mahal. Di sekolah kadang-kadang dikasi juga. Cari-cari catnya gak nemu. So, akhirnya browsing sana sini cari yang se-simple mungkin. Akhirnya dapat juga (dimodifikasi sedikit sesuai bahan yang tersedia di rumah). Vino ikut aduk-aduk juga (rada repot bikin sama anak usia 3 th, karena dia punya mau sendiri dan gak sabaran. Tapi sepertinya dia cukup menikmati prosesnya :)

Bahan
1 gelas tepung sagu/kanji (aslinya pakai tepung jagung, tapi sayang..buat masak)
1 gelas air dingin (aslinya bilang cold water, aku pakai air suhu ruang, bukan air es)
3 gelas air mendidih
pewarna makanan
botol aqua (lubangi tutupnya dengan obeng)

*note: aslinya satuan nya pakai cup, tapi karena nggak punya sendok takar 'cup' ya dikira-kira sendiri pakai gelas

Cara:
Campurkan 1 gelas air dingin dengan tepung, sambil ditambahkan sedikit demi sedikit air mendidih
Aduk di atas kompor sampai mencapai kekentalan yang diinginkan
Bagi-bagi ke beberapa wadah sesuai warna yang dibutuhkan
Masukkan ke dalam botol


plain

add pink color
add chocolate color

cat yang sudah jadi
the beginning

paint with brush



hand print

making SPLASH!!

happy face

body paint apa luluran yaa?

another hand print

fold the paper: making simetric pattern-nggak kefoto. udah nggak karu-karuan gambarnya :P

ending: empty bottles, messy n happy mode


Behind the scene:
Foto-foto ini diambil 2-3 hari setelah pembuatan cat. Hari H kacau banget, karena sebagian isi botol dimasukkan di gelas aqua, terus dituang (huaaaaahhhh....bayangin sendiri gimana rasanya).
Sebaiknya cat segera dihabiskan/dimasukkan ke kulkas karena kalau terlalu lama dibiarkan baunya jadi kecut (mungkin juga karena aku melewatkan proses terakhir-diaduk di atas kompor)

Selamat mencoba ^___^

Tuesday, November 13, 2012

The Birthday Boy

Tak terasa Vino menginjak usia 3 tahun. Biasanya teman-temannya kalau ultah dirayakan di sekolah. Ada goodie bag, bagi kue, balon...pokoknya kelihatan meriah. Wah, enaknya dirayain di sekolah juga, atau makan-makan sama keluarga saja ya? Waktu ditanyakan mau dirayakan di sekolah atau nggak, dia jawab mau. Dalam hati sih bilang..."waduh...kok mau ya..." kebayang ribetnya gimana...soalnya kalo dengar cerita moms yang sudah ngerayain ultah di sekolah, mereka prepare goodie bag sendiri, dihias sendiri. Secara tidak ada PRT di rumah, jadi yang kebayang ya ribetnya itu. 
Singkat cerita, rencananya ultah Vino di sekolah dirayakan secara sederhana saja. Bagi-bagi bento. Survey Hokben dan Chubo-chubo, akhirnya pilihan jatuh ke Chubo karena lebih murah. Tidak membawa cake di sekolah (repot jalan kaki bawa cake, dan di kanan serta depan sekolah ada orang lagi bangun rumah. Debu). Biasanya dikasi cupcake. But I don't like it. Cuma menarik penampilannya saja. Tapi kurang enak, bawanya ribet (again) dan biasanya cuma dimakan beberapa gigit aja.

Beberapa hari sebelum hari H, ternyata ada temannya yang ultah. Bagi cupcake, goodie bag sama balon angry bird. Wah, kelihatan meriah sekali. Kasian juga kayaknya kalo Vino cuma bagi nasi kotak (bento kan a.k.a nasi kotak hehehe). So, mulai mikir...enaknya perayaan buat Vino ditambahi apa ya biar kelihatan meriah. Tiba-tiba ada ide, dikasi topi aja. Bisa lebih meriah, dan bisa dibawa pulang temannya. 

Mulailah hunting topi (kurang 1 minggu padahal...mepet.com). Tapi topi-topi yang dijual di tokok kebanyakan designnya jelek, bahan kurang bagus. Or, ada yang agak bagus tapi mahal. Akhirnya kuputuskan untuk membuat topi sendiri. Dadakan memang. Pulang hunting langsung buka Oom Google cari ide topi ultah. Akhirnya dapat disini. Bahannya dari sisa karton yang dulu kupakai buat bikin flash card. Hiasan dari persediaan kertas kado. Untuk topi Vino kubikin agak beda. Ujungnya diberi hiasan dari flanel (dari persediaan juga). Beli tali elastis warna warni. 1m cuma Rp 600. I think it's cheap for birthday hat. Memang 1 malam itu lembur. Tapi karena sudah diniati dan supaya Vino suka...dijalani dengan iklhas hehehe...

pola dan beberapa topi yang sudah jadi

pola

Voila! Vino's brithday hats are ready

Sorenya, makan-makan dengan keluarga di Ikan Bakar Cianjur. Black Forrest cake with his favourite toy. CARS. Pertama mauku sih dihiasi sama Francesco Bernoulli, tapi kayaknya gak ada yang jual hihihi...anything deh, pokoknya MOBIL. So, ini cakenya.
Lightning MacQueen!
Si Vino waktu foto gak tahan, noel-noel coklatnya hehehe...






Berhasil tiup sampai lilin padam

Kalau diingat-ingat, waktu Vino ultah selalu ada sentuhan hand made yang kubuat buat dia. Waktu ultah pertama, isi foto pigura dari umur 0-1tahun. Umur 2th, dibikinin scrap book (not finished yet -_-), umur 3th, bikin topi :) 
At last, HAPPY BIRTHDAY my boy, God Bless You always. Jadi anak yang baik, jujur, bertanggung jawab dan dapat diandalkan ya, dan semoga dirimu menjadi pembawa kabar baik bagi orang lain...as your name- Gabriel Malvino.

Monday, September 24, 2012

Activity: Coloring with ice

Colorful ice
Satu lagi cara untuk bermain dengan warna. Menggambar menggunakan es.
Caranya siapkan macam-macam pewarna makanan, campur dengan air dan cetak di ice tray. 
Untuk menggambar, siapkan kertas. Bisa kertas Hvs bekas atau kertas gambar polos.

Permainan ini dapat digunakan untuk  melatih sensory (dari dinginnya es), mengenalkan warna, melatih kreativitas, sekaligus mengenalkan science sederhana kepada anak, bahwa es yang berada di suhu ruang atau ditaruh di air lama-lama akan mencair. Bisa juga untuk melatih motorik anak. Setelah mencair, Vino malah mulai menyendoki air, terus berlanjut ke acara memandikan mobil :)
Mewarnai


Kalau dikasi air bagaimana ya?

Es mulai mengecil dan mencair, warnanya bercampur

Latihan scooping

Sunday, September 16, 2012

Mari Memahami Anak


"Banyak ayah bunda yang tahu anaknya, tapi sedikit yang paham akan anaknya"
Cukup menyentil kutipan tadi, mungkin aku sendiri termasuk di dalamnya dan masih terus berusaha memahami anak. Artikel ini kutemukan waktu singgah di toko mainan salah satu mall di dekat rumah. Terbagi atas beberapa seri, terbagi atas tahap perkembangan anak usia 0-11 tahun. Semoga bisa dishare secara continue di sini.

Ok, back to that quote. Pengertian 'tahu' adalah ayah bunda yang tahu anaknya terutama yang bersifat fisik saja. Sesuatu yang kasat mata, bisa dilihat dan diraba. Misalnya tahu nama anaknya, hobbynya aoa, tahu dan hafal wajah anaknya.

Lalu, apa pengertian kalimat selanjutnya, "sedikit yang paham akan anaknya"? Ini lebih dalam maknanya. Maksudnya tidak banyak ayah bunda yang paham akan anaknya, terutama berkaitan dengan sesuatu yang tidak terlihat secara fisik. Misalnya tahap perkembangan anak.


Karena ketidakpahaman inilah banyak perlakuan orang tua yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan anak. Dampaknya orang tua merasa sudah optimal, tapi anaknya tidak bisa diajak kompromi. Timbul stigma anak bandel, nakal, nggak nyambung. Anak-anak merasa ayah bundanya tidak paham apa yang mereka butuhkan, ibaratnya butuh minum, tapi malah dikasih nasi uduk. Akan dijumpai tokoh 'aku' sebagai anak yang mengatakan apa yang ia kehendaki dari ayah bunda.


Usia di bawah 3 tahun
 Jasmaniku 
  1. Sangat aktif, senang berlari dan melompat. Namun aku cepat lelah. 
  2. Otot kecilku belum berkembang sempurna, karena itu belum bisa mengatur persendian otot-otot. 
  3. Pada umumnya sudah dapat mengendalikan diri dalam membuang air besar dan kecil. 
  4. Mudah terserang penyakit. 
  5. Pita suaraku belum berkembang sempurna. 
Yang harus ayah bunda pahami 
  • Kalau berinteraksi, misalnya bercerita denganku, carilah ruang yang agak lega. 
  • Hindari memberikan aktivitas yang terlalu berat
  • Aku belum dapat mengerjakan pekerjaan tangan yang terlalu rumit. 
  • Aku belum dapat duduk dengan tenang. 
  • Masalah sering timbul karena gangguan emosiku. 
  • Jangan memaksaku untuk menyanyi dengan nada tinggi, suara yang cepat atau keras.
Mentalku 
  1. Konsentrasi lemah, mudah bosan. 
  2. Rasa ingin tahu yang besar, suka menjamah benda-benda. 
  3. Belajar melalui panca indra
  4. Menyukai hal-hal yang sudah dikenal dan senang untuk mengulang 
  5. Kosakataku masih terbatas
  6. Daya ingat masih kurang, perlu sering diulang
  7. Aku suka menggambar dan belajar melalui bermain
Yang harus ayah bunda pahami 
  • Kalau bercerita waktunya jangan lama-lama 
  • Hindarkan aku dari barang yang mudah pecah
  • Pelajaran harus disampaikan dengan alat peraga 
  • Ajak aku beraktivitas lewat hal-hal yang sudah kukenal
  • Gunakan kata-kata sederhana
  • Adakan aktivitas menggambar dalam bercerita
Emosiku
  1. Menyukai suasana yang sudah dikenal dan takut pada suasana asing
  2. Takut pada orang asing
  3. Emosi tidak stabil, lebih peka pada lingkungan sekitar 
Yang harus ayah bunda pahami  
  • Gunakan ruangan yang sudah kukenal
  • Usahakan ayah bundalah orang yang rutin berinteraksi denganku 
  • Ayah bunda harus meyakinkanku untuk aman dan nyaman
  • Penerangan ruangan yang cukup dengan warna yang lembut dan menyenangkan 
Pergaulanku
  1. Sifat ketergantungan yang masih besar dan ingin menonjolkan diri
  2. Aku yang menjadi pusat perhatian dan didahulukan'
  3. Suka mengatakan 'tidak'. Masa ini adalah masa menentang
Yang harus ayah bunda pahami 
  • Berikan pertolongan seperlunya, biarkan aku melakukan hal-hal yang kumampu
  • Ajarkan untuk berbagi dengan orang lain
  • Harus  memahami kata 'tidak' yang diucapkan, kadang-kadang berarti 'tidak dapat mengerjakan', 'tidak mengerti', atau 'mengapa'
Kerohanianku
  1. Menirukan tingkah laku orang dewasa
  2. Banyak kebenaran yang tidak dapat dipahami tapi dapat dirasakan
  3. Tahu mengucapkan syukur
  4. Sudah mulai paham tentang Tuhan dan hal-hal yang berhubungan denganNya
Yang harus ayah bunda pahami 
  • Perbanyak bacakan kitab suci dan berikan contoh dalam kehidupan sehari-hari
  • Menjaga dan pertahankan perkataan, sikap dan tingkah laku ayah bunda
  • Ajarkan soal bersyukur dan lain-lain  
  • Hands on mind (ada teori ada prakteknya) 

Monday, September 10, 2012

Activity: Matching the Shapes

Vino sudah mengenal berbagai macam bentuk dasar. Kali ini untuk selingan supaya tidak bosan main puzzle terus, aku bikinkan permainan sederhana dan murah. Bahannya juga bisa diperoleh dari properti pribadi, tidak ribet dan berkotor-kotor mengingat Vino belum sembuh benar dari batuk, jadi cari aktivitas yang bisa dikerjain di kamar saja. Idenya kudapat waktu blog walking ke sini.
 

 
Bahan:
Spidol
Kertas kalender/karton berwarna
Things around you (puzzle, ember, botol lotion, wadah pensil warna, CD, dll)

Cara:
Gambar sisi benda-benda dengan berbagai bentuk tsb dengan spidol.
Ajak si kecil mencocokkan bentuk di kertas dengan benda-benda yang tersedia.


Vino sudah mulai bisa mencocokkan dengan mudah. Good job Vino :)







Monday, August 27, 2012

Self Help: Melatih Kemandirian Anak



Mengutip sedikit dari postingan di fb Komunitas Ayah Edy


Pernah punya kipas angin dirumah...? Adakah kipas angin yg masih masih utuh bekerja sempurna dirumah...? Berapa kali sudah ganti kipas tapi tidak pernah bisa bertahan lama...?

Tidak bisa kita pungkiri lagi bahwa masa kanak2 adalah masa yg paling banyak merusak barang2 dirumah, hal ini sebenarnya mencerminkan otak anak2 yg masih orisinil dan aktif untuk mengetahui apa saja yg dia lihat dan mengekplorasi cara kerjanya setiap benda yg bergerak (elektronik), hanya sayangnya dia tidak tahu caranya atau kita lupa mengajarkan cara yg benar padanya untuk menggunakan alat tersebut.

Menghadapi hal ini kebanyakan orang tua malah memarahi atau melarang anaknya untuk menyentuh barang2 yg ada dirumah. Alhasil anak jadi makin penasaran dan tetap saja merusak barang yang akhirnya akan membuat kita jadi lebih sering marah dan stress dibuatnya.

Selain itu kebanyakan orang tua juga malah merahasiakan cara penggunaan perabot rumah tangga yg ada semisal Kipas Angin agar tidak digunakan oleh anaknya. Hasilnya ? tentu saja tinggal menunggu waktu, kapan kita lengah maka benda tersebut akan habis di "Eksplorasi" oleh anak kita. Seperti seorang tukang reparasi kecil yg memiliki semboyan "Terima Bongkar - Tapi tidak terima pasang"

Pasti banyak di antara teman-teman yang merasa cerita di atas "gue banget". Sama. Vino di usianya yang 2,5 thn ini juga menunjukkan sikap ingin melakukannya sendiri. Curiousity tinggi. Jadi daripada capek melarang, sudah mulai kuajari dengan self help sederhana. Misalnya  bikin susu sendiri. Kuajari cara penggunaan dispenser (sekalian dengan bahasa inggris). Tombol yang red untuk hot water, yang blue untuk cold water. Dulunya pernah asal pencet tombol merah dan alhasil kena air panas, untung tidak takut mencoba, mungkin karena sering nonton CD Baby Brain ya. Di situ ada pengenalan untuk hot and cold water. Jadi, yang isi air panas aku, yang isi air biasa Vino (ini kadang-kadang dibuat mainan...so jadi becek gitu lhoo >.<) Menuang susu bubuk sendiri dengan sendok susu, sekalian latihan menghitung (masih sering ngaco). Belepotan atau tumpah memang kadang bikin kesal, tapi tidak apa, tidak perlu dimarahi supaya dia tetap berani mencoba. Usaha anak untuk mencoba perlu dihargai, tidak hanya hasil akhir.

Demikian juga dengan penggunaan remote TV/DVD, buka tutup pintu, cuci tangan, siram tanaman, turun dari mobil, membuka/mengenakan celana (sudah bisa buka celana, tapi celana karet), membuka/mengenakan baju (kaos). Meskipun belum sempurna, tapi setidaknya kita dorong niatnya untuk mandiri. Kuncinya ya harus extra sabar dan telaten karena kadang malah dibuat mainan, waktu diajari tertarik objek lain, atau anaknya sendiri marah-marah karena tidak bisa. Jujur saja, sering juga aku kurang konsisten, dalam arti kalau lagi buru-buru ya dipakein baju, kalau lelet diomeli. Rencananya mau kuajari pakai baju berkancing. Sudah siap-siap beli kancing baju warna warni yang agak besar. Tinggal bikin 'baju-bajuan'.


Secara umum kemandirian bisa diukur melalui bagaimana anak bertingkah laku secara fisik. Namun, tidak hanya itu, kemandirian juga bisa berwujud pada perilaku emosional dan sosialnya. Contoh sederhana, anak usia 3-4 tahun yang sudah bisa menggunakan alat makan, seharusnya bisa makan sendiri, ini adalah bentuk kemandirian secara fisik. Anak yang bisa masuk ke kelas dengan nyaman karena mampu mengontrol dirinya adalah bentuk kemandirian emosional. Contoh kemandirian sosial yaitu apabila anak mampu berhubungan dengan orang lain secara independen sebagai individu, dan tidak selalu hanya berinteraksi dengan orang tua atau pengasuhnya.

Sebenarnya, sejak usia dini naluri setiap anak sudah menunjukkan perilaku dasar mandiri. Misalnya, pada saat masih bayi, mereka belajar untuk tengkurap, merangkak, berdiri, dan berjalan sendiri. Dalam masa itu mereka berusaha sekuat tenaga untuk bisa walaupun sering gagal dan menangis. Hal itu merupakan perilaku adaptif sesuai dengan usia anak untuk menjadi manusia yang mandiri. Hanya saja, sering kali lingkungan kurang tanggap dan kondusif terhadap proses menuju kemandirian ini sehingga anak mendapat perlakuan yang salah. Misalnya, acap kali orang tua merasa tidak tega atau kurang sabar melihat si kecil yang berusaha menautkan tali sepatunya selama beberapa saat, namun belum juga berhasil, lalu segera membantu menyelesaikan masalah tersebut. Tanpa disadari bahwa sikap semacam ini menghentikan proses menuju kemandirian yang sedang diperjuangkan sang anak. Akibatnya, anak akan terbiasa mencari orang tuanya apabila menghadapi persoalan, dan mulai tergantung pada orang lain, untuk hal-hal yang kecil sekalipun. 

Anak-anak yang tidak mandiri akan memberi pengaruh negatif terhadap perkembangan kepribadiannya sendiri. Apabila hal ini tidak segera diatasi, anak akan mengalami kesulitan pada perkembangan selanjutnya. Anak akan mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Terlebih, anak yang tidak mandiri juga akan menyusahkan orang lain.

Anak-anak yang tidak mandiri cenderung tidak percaya diri dan tidak mampu mengambil keputusan dengan baik. Sedangkan bentuk ketergantungan kepada orang lain dapat berupa; misalnya mulai dari persiapan berangkat sekolah, ketika di lingkungan sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah, sampai dalam pola belajarnya. Dalam persiapan berangkat sekolah, misalnya, anak selalu ingin dimandikan orang lain, dibantu berpakaian, minta disuapi, disiapkan buku dan peralatan sekolah oleh orang lain, termasuk harus selalu diantar ke sekolah. Ketika belajar di rumah, mereka mungkin mau, asalkan semua dilayani; misalnya anak akan menyuruh orang lain untuk mengambilkan pensil, buku, serutan dan sebagainya.

Beberapa hal umum yang perlu dihindari agar proses menuju kemandirian anak dapat berlangsung sesuai yang kita harapkan adalah:
Kekhawatiran yang berlebihan terhadap anak.
Saat anak ingin memegang gelas, sendok, atau peralatan makan, sebenarnya sudah menjadi petunjuk gejala mandiri. Sayangnya, orangtua atau pengasuh kadangkala suka melarang anak melakukan hal tersebut. Banyak alasan atas larangan itu, misalnya, karena khawatir benda yang dipegang anak akan jatuh. Tanpa disadari, larangan itu justru menghambat kesempatan anak untuk belajar mandiri.

Overprotective. Tak sedikit orangtua yang takut bila anaknya yang berusia batita melakukan hal-hal tertentu. Saat anak ingin naik-turun tangga sendiri, kerap tidak diperbolehkan, bahkan langsung digendong. Akibatnya, anak jadi penakut dan tak mampu mengontrol diri sendiri. Tak ada salahnya memperbolehkan anak naik-turun tangga sendiri, tentunya dengan diawasi dan dijaga oleh orangtua maupun pengasuhnya. Setiap anak mampu mengukur, seberapa jauh ia dapat mengontrol diri sendiri. Saat berada di ketinggian tertentu, anak mempunyai insting dasar untuk bertahan dan tidak melompat. Biarkan anak melakukan hal yang diinginkannya, tetapi tetap harus diawasi.

Kasih sayang yang berlebihan. Apapun keinginan anak dipenuhi dan dilayani. Curahan kasih sayang dengan menjadikan anak sebagai tuan kecil dalam rumah merupakan penyebab anak menjadi tidak mandiri dan manja. Tetapi, tidak ada kata terlambat untuk melatih anak menjadi mandiri. Asalkan ada kesempatan bagi anak untuk menunjukkan perilaku mandirinya. Hanya saja, akan semakin sulit manakala usia anak makin bertambah karena sebelumnya anak selalu bergantung pada orangtua dan pengasuhnya. Anak akan menuntut untuk terus dilayani, diperhatikan, hingga akhirnya sulit diubah.

Semoga sharing ini bermanfaat :)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...