Saturday, December 17, 2011

Resep tahu: Perkedel Tahu Udang

Bahan :
2 buah tahu putih 
1 sdm udang cincang 
1 buah bawang Merah, cincang halus 
1 butir telur ayam 
1 sdm tepung sagu 
2 sdm tauge
1 sdt garam
½ sdt gula pasir

Cara Membuat : 

  • Haluskan tahu dengan sendok makan.
  • Tambahkan udang cincang, irisan bawang merah, telur ayam, gula, dan garam.
  • Aduk hingga tercampur rata.
  • Masukkan tepung sagu dan tauge, aduk hingga tercampur rata.
  • Sendoki atau bentuk adonan sesuai selera.
  • Goreng dalam minyak panas dan banyak hingga kuning kecokelatan.
  • Angkat dan tiriskan.
  • Sajikan hangat.
Untuk 12 buah 


source: detikfood.com

Ayam Masak Kuning

Posting soal resep-resep ini aku coba share. 
Semua ini kumpulan koleksi pribadi yang aku ambil dari web lain. 
Sering kali bingung masakin apa buat si Vino, jadi rajin browsing cari resep. 
Semoga bisa membantu bunda lain yang puyeng kayak aku mau masak apa ^^



Bahan :
1 sdm minyak goreng
2 siung bawang putih, cincang halus
¼ buah bawang Bombay, cincang halus
1 ruas jari kunyit, iris tipis
2 lembar daun jeruk
150 gr fillet ayam, potong dadu
1 buah wortel, potong dadu kecil
50 gr buncis, potong-potong
50 gr DANCOW batita,larutkan dengan air hangat
250 ml air hangat
1 sdt seledri,cincang halus
Cara Membuat :
  1. Panaskan minyak goreng lalu tumis bawang putih dan bawang Bombay,kunyit,daun jeruk, hingga harum
  2. Masukkan ayam, masak hingga berubah warna. Masukkan wortel dan buncis aduk rata lalu tuang larutan DANCOW, masak hingga matang, taburi seledri cincang, sajikan
    ** Kalau dancow tidak ada, bisa diganti susu lain. Aku pakai susu ultra yang plain.

Friday, December 16, 2011

Gadis Penjual Korek Api


Di malam natal, orang-orang berjalan dengan wajah yang gembira memenuhi jalan di kota. Di jalan itu ada seorang gadis kecil mengenakan pakaian compang-camping sedang menjual korek api. "Mau beli korek api?" "Ibu, belilah korek api ini." "Aku tidak butuh korek api, sebab di rumah ada banyak." Tidak ada seorang pun yang membeli korek api dari gadis itu.
Tetapi, kalau ia pulang tanpa membawa uang hasil penjualan korek api, akan dipukuli oleh ayahnya. Ketika akan menyeberangi jalan. Grek! Grek! Tiba-tiba sebuah kereta kuda berlari dengan kencangnya. "Hyaaa! Awaaaaas!" Gadis itu melompat karena terkejut. Pada saat itu sepatu yang dipakainya terlepas dan terlempar entah ke mana. Sedangkan sepatu sebelahnya jatuh di seberang jalan. Ketika gadis itu bermaksud pergi untuk memungutnya, seorang anak lakilaki memungut sepatu itu lalu melarikan diri. "Wah, aku menemukan barang yang bagus."
Akhirnya gadis itu bertelanjang kaki. Di sekitarnya, korek api jatuh berserakan. Sudah tidak bisa dijual lagi. Kalau pulang ke rumah begini saja, ia tidak dapat membayangkan bagaimana hukuman yang akan diterima dari ayahnya. Apa boleh buat, gadis itu membawa korek api yang tersisa, lalu berjalan dengan sangat lelahnya. Terlihatlah sinar yang terang dari jendela sebuah rumah. Ketika gadis itu pergi mendekatinya, terdengar suara tawa gembira dari dalam rumah.
Di rumah, yang dihangatkan oleh api perapian, dan penghuninya terlihat sedang menikmati hidangan natal yang lezat. Gadis itu meneteskan air mata. "Ketika ibu masih hidup, di rumahku juga merayakan natal seperti ini." Dari jendela terlihat pohon natal berkelipkelip dan anak-anak yang gembira menerima banyak hadiah. Akhirnya cahaya di sekitar jendela hilang, dan di sekelilingnya menjadi sunyi.
Salju yang dingin terus turun. Sambil menggigil kedinginan, gadis itu duduk tertimpa curahan salju. Perut terasa lapar dan sudah tidak bisa bergerak. Gadis yang kedinginan itu, menghembus-hembuskan nafasnya ke tangan. Tetapi, sedikit pun tak menghangatkannya. "Kalau aku menyalakan korek api ini, mungkin akan sedikit terasa hangat." Kemudian gadis itu menyalakan sebatang korek api dengan menggoreskannya di dinding.
Crrrs Lalu dari dalam nyala api muncul sebuah penghangat. "Oh, hangatnya." Gadis itu mengangkat tangannya ke arah tungku pemanas. Pada saat api itu padam, tungku pemanaspun menghilang. Gadis itu menyalakan batang korek api yang kedua. Kali ini dari dalam nyala api muncul aneka macam hidangan.
Di depan matanya, berdiri sebuah meja yang penuh dengan makanan hangat. "Wow! Kelihatannya enak." Kemudian seekor angsa panggang melayang menghampirinya. Tetapi, ketika ia berusaha menjangkau, apinya padam dan hidangan itu menghilang. Gadis itu segera mengambil korek apinya, lalu menyalakannya lagi. Crrrs!
Tiba-tiba gadis itu sudah berada di bawah sebuah pohon natal yang besar. "Wow! Lebih indah daripada pohon natal yang terlihat dari jendela tadi." Pada pohon natal itu terdapat banyak lilin yang bersinar. "Wah! Indah sekali!" Gadis itu tanpa sadar menjulurkan tangannya lalu korek api bergoyang tertiup angin. Tetapi, cahaya lilin itu naik ke langit dan semakin redup. Lalu berubah menjadi bintang yang sangat banyak.
Salah satu bintang itu dengan cepat menjadi bintang beralih. "Wah, malam ini ada seseorang yang mati dan pergi ke tempat Tuhan,ya... Waktu Nenek masih hidup, aku diberitahu olehnya." Sambil menatap ke arah langit, gadis itu teringat kepada Neneknya yang baik hati. Kemudian gadis itu menyalakan sebatang lilin lagi. Lalu di dalam cahaya api muncul wujud Nenek yang dirindukannya. Sambil tersenyum, Nenek menjulurkan tangannya ke arah gadis itu.
"Nenek!" Serasa mimpi gadis itu melo ' mpat ke dalam pelukan Nenek. "Oh, Nenek, sudah lama aku ingin bertemu' " Gadis itu menceritakan peristiwa yang dialaminya, di dalam pelukan Nenek yang disayanginya. "Kenapa Nenek pergi meninggalkanku seorang diri? Jangan pergi lagi. Bawalah aku pergi ke tempat Nenek." Pada saat itu korek api yang dibakar anak itu padam. "Ah, kalau apinya mati, Nenek pun akan pergi juga. Seperti tungku pemanas dan makanan tadi..."
Gadis itu segera mengumpulkan korek api yang tersisa, lalu menggosokkan semuanya. Gulungan korek api itu terbakar, dan menyinari sekitarnya seperti siang harl. Nenek memeluk gadis itu dengan erat. Dengan diselimuti cahaya, nenek dan gadis itu pergi naik ke langit dengan perlahan-lahan. "Nenek, kita mau pergi ke mana?" "Ke tempat Tuhan berada."
Keduanya semakin lama semakin tinggi ke arah langit. Nenek berkata dengan lembut kepada gadis itu, "Kalau sampai di surga, Ibumu yang menunggu dan menyiapkan makanan yang enak untuk kita." Gadis itu tertawa senang. Pagi harinya. Orang-orang yang lewat di jalan menemukan gadis penjual korek api tertelungkup di dalam salju. "Gawat! Gadis kecil ini jatuh pingsan di tempat seperti ini." "Cepat panggil dokter!"
Orang-orang yang berkumpul di sekitarnya semuanya menyesalkan kematian gadis itu. Ibu yang menolak membeli korek api pada malam kemarin menangis dengan keras dan berkata, "Kasihan kamu, Nak. Kalau tidak ada tempat untuk pulang, sebaiknya kumasukkan ke dalam rumah." Orang-orang kota mengadakan upacara pemakaman gadis itu di gereja, dan berdoa kepada Tuhan agar mereka berbuat ramah meskipun pada orang miskin.

The Gingerbread Man

An old woman was baking one day, and she made some gingerbread. She had some dough left over, so she made the shape of a little man. She made eyes for him, a nose and a smiling mouth all of currants, and placed more currants down his front to look like buttons. Then she laid him on a baking tray and put him into the oven to bake.
After a little while, she heard something rattling at the oven door. She opened it and to her surprise out jumped the little gingerbread man she had made. She tried to catch him as he ran across the kitchen, but he slipped past her, calling as he ran:
"Run, run, as fast as you can,
You can't catch me, I'm the gingerbread man!"
She chased after him into the garden where her husband was digging. He put down
his spade and tried to catch him too, but as the gingerbread man sped past him he called over his shoulder:
"Run, run, as fast as you can,
You can't catch me, I'm the gingerbread man!"
As he ran down the road he passed a cow. The cow called out, "Stop, gingerbread man! You look good to eat!" But the gingerbread man laughed and shouted over his shoulder:
"I've run from an old woman
And an old man.
Run, run, as fast as you can,
You can't catch me, I'm the gingerbread man!"
The cow ran after the old woman and the old man, and soon they all passed a horse. "Stop!" called out the horse, "I'd like to eat you." But the gingerbread man called out:
"I've run from an old woman
And an old man,
And a cow!
Run, run, as fast as you can,
You can't catch me, I'm the gingerbread man!"
He ran on, with the old woman and the old man and the cow and the horse following, and he went past a party of people haymaking. They all looked up as they saw the gingerbread man, and as he passed them he called out:
"I've run from an old woman,
And from an old man,
And a cow and a horse.
Run, run, as fast as you can,
You can't catch me, I'm the gingerbread man!"
The haymakers joined in the chase behind the old woman and the old man, the cow and the horse, and they all followed,him as he ran through the fields. There he met a fox, so he called out to the fox:
"Run, run, as fast as you can,
You can't catch me, I'm the gingerbread man!"
But the sly fox said, "Why should I bother to catch you?" although he thought to himself, "That gingerbread man would be good to eat."

 Just after he had run past the fox the  gingerbread man had to stop because he came to a wide, deep, swift-flowing river.
 The fox saw the old woman and the  old man, the cow, the horse and the haymakers all chasing the gingerbread man so he said,
"Jump on my back, and I'll take you across the river!" The gingerbread man jumped on the fox's back and the fox began to swim.
As they reached the middle of the river, where the water was deep, the fox said,
"Can you stand on my head, Gingerbread Man, or you will get wet." So the gingerbread man pulled himself up and stood on the fox's head.
As the current flowed more swiftly, the fox said,  
"Can you move on to my nose, Gingerbread Man, so that I can carry you more safely? I would not like you to drown." The gingerbread man slid on to the fox's nose. But when they reached the bank of the river, the fox suddenly went snap! The gingerbread man disappeared into the fox's mouth, and was never seen again.

source: http://www.childrenstory.info

Asal Mula Guntur



Dahulu kala peri dan manusia hidup berdampingan dengan rukun. Mekhala, si peri cantik dan pandai, berguru pada Shie, seorang pertapa sakti. Selain Mekhala, Guru Shie juga mempunyai murid laki-laki bernama Ramasaur. Murid laki-laki ini selalu iri pada Mekhala karena kalah pandai. Namun Guru Shie tetap menyayangi kedua muridnya. Dan tidak pernah membedakan mereka.
Suatu hari Guru Shie memanggil mereka dan berkata, “Besok, berikan padaku secawan penuh air embun. Siapa yang lebih cepat mendapatkannya, beruntunglah dia. Embun itu akan kuubah menjadi permata, yang bisa mengabulkan permintaan apapun.” Mekhala dan Ramasaur tertegun. Terbayang oleh Ramasaur ia akan meminta harta dan kemewahan. Sehingga ia bisa menjadi orang terkaya di negerinya. Namun Mekhala malah berpikir keras. Mendapatkan secawan air embun tentu tidak mudah, gumam Mekhala di dalam hati.
Esoknya pagi-pagi sekali kedua murid itu telah berada di hutan. Ramasaur dengan ceroboh mencabuti rumput dan tanaman kecil lainnya. Tetapi hasilnya sangat mengecewakan. Air embun selalu tumpah sebelum dituang ke cawan. Sebaliknya, Mekhala dengan hati-hati menyerap embun dengan sehelai kain lunak. Perlahan diperasnya lalu dimasukan ke cawan. Hasilnya sangat menggembirakan. Tak lama kemudian cawannya telah penuh. Mekhala segera menemui Guru Shie dan memberikan hasil pekerjaannya.
Guru Shie menerimanya dengan gembira. Mekhala memang murid yang cerdik. Seperti janjinya, Guru Shie mengubah embun itu menjadi sebuah permata sebesar ibu jari. ” Jika kau menginginkan sesuatu, angkatlah permata ini sejajar dengan keningmu. Lalu ucapkan keinginanmu,” ujar Guru Shie. Mekhala mengerjakan apa yang diajarkan gurunya, lalu menyebut keinginannya. Dalam sekejap Mekhala telah berada di langit biru. Melayang-layang seperti Rajawali. Indah sekali.
Sementara itu, baru pada senja hari Ramasaur berhasil mendapat secawan embun. Hasilnya pun tidak sejernih yang didapat Mekhala. Tergopoh-gopoh Ramasaur menyerahkannya pada Guru Shie. “Meskipun kalah cepat dari Mekhala, kau akan tetap mendapat hadiah atas jerih payahmu,” kata Guru Shie sambil menyerahkan sebuah kapak sakti. Kapak itu terbuat dari perak. Digunakan untuk membela diri bila dalam bahaya. Bila kapak itu dilemparkan ke sasaran, gunung pun bisa hancur.
Ternyata Ramasaur menyalahgunakan hadiah itu. Ia iri melihat Mekhala yang bisa melayang-layang di angkasa. Ramasaur segera melemparkan kapak itu ke arah Mekhala. Tahu ada bahaya mengancam, Mekhala menangkis kapak itu dengan permatanya. Akibatnya terjadilah benturan dahsyat dan cahaya yang sangat menyilaukan. Benturan itu terus terjadi hingga saat ini, berupa gelegar yang memekakkan telinga. Orang-orang menyebutnya “guntur”.

Asal Mula Rumah Siput



Dahulu kala, siput tidak membawa rumahnya kemana-mana… Pertama kali siput tinggal di sarang burung yang sudah ditinggalkan induk burung di atas pohon .
Malam terasa hangat dan siang terasa sejuk karena daun-daun pohon merintangi sinar matahari yang jatuh tepat ke sarang tempat siput tinggal. Tetapi ketika musim Hujan datang, daun-daun itu tidak bisa lagi menghalangi air hujan yang jatuh,.. siput menjadi basah dan kedinginan terkena air hujan.
Kemudian siput pindah ke dalam lubang yang ada di batang pohon, Jika hari panas, siput terlindung dengan baik, bahkan jika hujan turun, siput tidak akan basah dan kedinginan. Sepertinya aku menemukan rumah yang cocok untukku, gumam siput dalam hati.
Tetapi di suatu hari yang cerah, datanglah burung pelatuk ,, tok..tok…tok…burung pelatuk terus mematuk batang pohon tempat rumah siput, siput menjadi terganggu dan tidak bisa tidur,
Dengan hati jengkel, siput turun dari lubang batang pohon dan mencari tempat tinggal selanjutnya. Siput menemukan sebuah lubang di tanah, kelihatannya hangat jika malam datang, pikir siput. Siput membersihkan lubang tersebut dan memutuskan untuk tinggal di dalamnya, tetapi ketika malam datang, tikus-tikus datang menggali dari segala arah merusak rumah siput. Apa mau dikata, siput pergi meninggalkan lubang itu untuk mencari rumah baru….
Siput berjalan terus sampai di tepi pantai penuh dengan batu karang. Sela-sela batu karang dapat menjadi rumahku !!! siput bersorak senang, aku bisa berlindung dari panas matahari dan hujan, tidak aka nada burung pelatuk yang akan mematuk batu karang ini, dan tikus-tikus tidak akan mampu menggali lubang menembus ke batu ini.
Siput pun dapat beristirahat dengan tenang, tetapi ketika air laut pasang dan naik sampai ke atas batu karang, siput ikut tersapu bersama dengan ombak. Sekali lagi siput harus pergi mencari rumah baru. Ketika berjalan meninggalkan pantai, siput menemukan sebuah cangkang kosong, bentuknya cantik dan sangat ringan….
Karena lelah dan kedinginan, Siput masuk ke dalam cangkang itu , merasa hangat dan nyaman lalu tidur bergelung di dalamnya.
Ketika pagi datang, Siput menyadari telah menemukan rumah yang terbaik baginya. Cangkang ini sangat cocok untuknya. Aku tidak perlu lagi cepat-cepat pulang jika hujan turun, aku tidak akan kepanasan lagi, tidak ada yang akan menggangguku, …. aku akan membawa rumah ini bersamaku ke manapun aku pergi.

source: http://www.ceritaanak.org

Saturday, December 10, 2011

Outing kantor

4.Dec.2011
Outing kantor lagi (akhirnyaaaa)...
Terakhir pas jaman kita2 masih single, sekarang udah pada ada buntutnya :P
Kali ini kita ke Jatim Park 1

Mejeng sebelum berangkat

Kumpul di kantor jam 7.
Vino langsung jadi artis. Banyak fans nya hehehe ....
Setengah jam kemudian berangkat dgn bus kantor.
Sekitar jam 10 baru sampai.

Tiket masuk untuk week day Rp 50.000/pax.
Kalau tingginya sudah 85 cm bayar tiket masuk (Vino 84cm, jadi pupuk bawang)


Cerah ceria di bus
Jatim Park 1 entrance


Vino tumben2 mau digandeng sama Seni (baju hijau), padahal baru kenal. Mau digendong akhirnya (ada baby sitter dadakan hihi..). Ternyata Seni udah biasa jaga keponakannya (jadi bau2 anak kecil gitu kali ^^ )



with Santa tree
Sayangnya Vino tidak bisa menikmati permainan karena terlalu kecil. Batas minimal 3 tahun.
Jadi kita cuma liat taman ikan sama bird park. Coba liat Robin Hood 3D.
Was was pertamanya, karena di dalam kan gelap. Ternyata setelah lampu bioskopnya dimatikan Vino gak protes. Dia senang pakai kacamatanya. Tapi setelah main, langsung minta keluar karena suaranya keras. He hates loud voice.
Liat papanya main trampoline, nangis......weleh weleeeh...
Main pasir, gak mau kakinya kena pasir...main ayunan, ga mau juga :(
Maunya..gendong! Aduh..(tapi memang minim main pasir & ayunan usia 3 tahun).
Lagian dianya udah capek.  Minta pulang.

Akhirnya setelah puas main (dan..FOTO-tentunya), rombongan pulang 16.30. Sampai di Surabaya sekitar jam 20.00 (pakai acara mampir di Senza).

Meskipun kita (aku n Vino) tidak seberapa bisa menikmati, but it's ok for me.
Karena it's a process. Ini adalah sebuah proses.
Proses belajar. Belajar mengenal lingkungan. Belajar bersosialisasi & interaksi. Yang penting, kita sudah mencoba. Hasil...itu nomer sekian :)

See you @ next outing
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...