Saturday, January 21, 2012

Dongeng Lima Butir Kentang


 Dongeng dari India.
 
Tersebutlah di sebuah dusun di pinggir kota tingal sebuah keluarga. 
Kepala keluarganya bernama Dheda. Dia tinggal bersama istrinya dan ketiga anaknya. Mereka sangat miskin, hingga untuk makan sehari-hari saja mereka sering kekuarangan. Maklumlah, Dheda hanya mengandalkan hasilnya mencari kayu bakar di hutan yang kemudian dia jual ke pasar. Hasilnya memang tidak seberapa. Tapi dari sanalah mereka bisa bertahan hidup.

Namun sudah seminggu ini hujan terus menerus turun dengan lebatnya. Dheda tidak bisa pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Mereka terpaksa bertahan dengan persediaan makanan di gudang. Tentu saja lama-lama persediaan mereka semakin sedikit, hingga suatu hari istri Dheda menghampirinya.
“Ayah, saya khawatir dengan keadaan anak-anak kita. Kita tidak punya persediaan makanan lagi. Makanan yang tersisa hanya tinggal 5 butir kentang. Dan itupun tidak cukup untuk makan kita berlima. Kita harus segera mencari uang untuk membeli makanan!” katanya.
“Aku tahu…,” kata Dheda. “Tapi bagaimana lagi? Hujan tidak juga mau berhenti. Aku tidak bisa mencari kayu ke hutan. Bersabarlah bu! Mudah-mudahan besok hari terang dan aku bisa bekerja. Biarlah persediaan terakhir kita anak-anak saja yang makan.”

Menjelang sore ada yang mengetuk pintu rumah Dheda. Ternyata seorang pengemis tua yang basah kuyup berdiri di luar pintu rumahnya. Pengemis itu tampak kedinginan. Dheda segera menyuruhnya masuk supaya terhindar dari hujan.
“Terima kasih tuan,” kata pengemis tua, “saya sudah berhari-hari kehujanan. Tidak ada tempat untuk berteduh. Dan perutku lapar sekali. Kalau boleh, saya ingin meminta sisa makanan untuk mengganjal perutku.”
Dheda terdiam. Dia kasihan sekali melihat pengemis tua itu. Tapi mereka tidak punya persediaan makanan lagi.
“Sayang sekali aku tidak memiliki sisa makanan. Karena saat ini kami pun sedang kekurangan makanan,” kata Dheda.
“Oh kasihanilah saya Tuan! Sudah tiga hari ini saya belum makan,” kata pengemis
 
Dheda merasa sangat iba, maka dia segera menghampiri istrinya dan berkata, “Bu, saya kasihan melihat pengemis tua itu. Bagaimana kalau kita berikan saja persediaan makanan terakhir kita. Mudah-mudahan anak-anak bisa bertahan dan besok hujan berhenti sehingga aku bisa bekerja mencari rizki.”
“Baiklah pak, saya akan segera memasak kentangnya,” kata istrinya

Akhirnya istri Dheda mengukus kentang yang tinggal 5 butir tersebut dan menghidangkannya kepada si pengemis tua. Pengemis itu memakan keempat kentangnya dan menyisakan sebutir kentang saja. Kemudian setelah beristirahat sejenak, si pengemis itu pun berpamitan, “terima kasih tuan. Karena tuan, hari ini perutku tidak kelaparan.”
“Sama-sama kek,” kata Dheda. “Sudah seharusnya kita saling menolong. Tapi kenapa kakek tidak menunggu hujan reda? Bagaimana kalau kakek sakit?”
“Tidak apa-apa! Perutku sudah terisi, jadi aku pasti kuat meski kehujanan,” katanya.
“Baiklah kalu begitu! Hati-hati di jalan ya kek!” kata Dheda.
“O ya, tadi aku menyisakan sebutir kentang di piring. Jika nanti kalian ingin makan. Iris-iris kentang itu menjadi 5 iris. Pasti akan cukup unuk kalian berlima. Nah selamat tinggal!” kata pengemis tua.

Setelah kepergian pengemis tua itu, Dheda memandang satu butir kentang yang tersisa di piring dan berpikir, “mana mungkin 1 butir kentang ini bisa cukup untuk kami?” Namun karena penasaran, maka dia mengajak keluarganya untuk berkumpul dan kemudian mengiris-iris kentang itu menjadi 5 iris. Ajaib! Ternyata kelima iris kentang itu berubah menjadi 5 butir kentang Dan jika 1 butir kentang itu diiris menjadi 5 iris lagi akan berubah menjadi 5 butir kentang lagi demikian seterusnya. Alhasil Dheda dan keluarganya tidak kekurangan makanan, bahkan persediaan makanan mereka sekarang berlimpah. 

Dheda dan keluarganya sangat bersyukur atas anugrah-Nya. Tidak lupa dia pun membagi-bagikannya kepada tetangga-tetangga mereka yang kekurangan. Sayang, Dheda tidak pernah bisa menemukan pengemis tua yang telah memberikan keajaiban bagi keluarganya. Mereka hanya bisa mendoakan keselamatan baginya dan berharap yang terbaik untuknya.

Dua Orang Pengembara dan Seekor Beruang

Dua orang berjalan mengembara bersama-sama melalui sebuah hutan yang lebat. Saat itu tiba-tiba seekor beruang yang sangat besar keluar dari semak-semak di dekat mereka.

Salah satu pengembara, hanya memikirkan keselamatannya dan tidak menghiraukan temannya, memanjat ke sebuah pohon yang berada dekat dengannya.
Pengembara yang lain, merasa tidak dapat melawan beruang yang sangat besar itu sendirian, melemparkan dirinya ke tanah dan berbaring diam-diam, seolah-olah dia telah meninggal. Dia sering mendengar bahwa beruang tidak akan menyentuh hewan atau orang yang telah meninggal.

Temannya yang berada di pohon tidak berbuat apa-apa untuk menolong temannya yang berbaring. Entah hal ini benar atau tidak, beruang itu sejenak mengendus-endus di dekat kepalanya, dan kelihatannya puas bahwa korbannya telah meninggal, beruang tersebutpun berjalan pergi.
Pengembara yang berada di atas pohon kemudian turun dari persembunyiannya.

"Kelihatannya seolah-olah beruang itu membisikkan sesuatu di telingamu," katanya. "Apa yang di katakan oleh beruang itu"
"Beruang itu berkata," kata pengembara yang berbaring tadi, "Tidak bijaksana berjalan bersama-sama dan berteman dengan seseorang yang membiarkan dan tidak menghiraukan temannya yang berada dalam bahaya."

Kemalangan dapat menguji sebuah persahabatan.

Aeosop story
source:  www.ceritakecil.com

Saturday, January 14, 2012

Fun and learn with Jesus

Vino belum sekolah. Jadi untuk membiasakan dia bersosialisasi, aku ikutkan sekolah minggu dan PD Kids.

Sekolah minggu sebetulnya fun juga sih, tapi sering tidak bisa ikut karena bangunnya kesiangan. Hari Minggu jam  7.30 di St. Clara. Jadi orang tua misa di gereja, anak-anak diikutkan sekolah minggu. Sampai sekarang Vino punya suster kesayangan, Sr. Diana. He still remember until now :)

sunday school with sr.diana

Waktu bulan rosaria anak-anak diajak untuk berdoa rosario. Lokasinya pindah-pindah. Kadang di kapel, kadang di gua Maria kecil di TK. Kalau masuk kapel anak-anak diajari untuk mengambil air suci dan membuat tanda salib. Dari anak paling kecil sampai paling besar. Yang besar tidak perlu diajari tentunya.
Waktu penutupan Vino memberi kembang merak beberapa tangkai, dari kebun sendiri. Ada anak-anak yang ngasi pot mawar ke Bunda Maria. Wah...gak pa pa deh, yang penting mulai memperkenalkan ke Bunda Maria. Di rumahpun kalau mau tidur malam dia bisa nyambung dikit-dikit doa Salam Maria (kalau lagi bolong udelnya hihi).

Kalau ada acara di TK dan dia bosan, ya ditinggal main-main. Waktu doa rosario juga begitu. Yang lain berdoa dia main-main hehehe. Aku rasa dia punya kecerdasan audio, karena sebetulnya meskipun sepertinya nggak mendengarkan, tapi sebetulnya dia merekam informasinya.



Kalau Vino ikut sekolah minggu dia tidak ikut misa. Padahal penting untuk mulai memperkenalkan suasana gereja, mengajari kebiasaan-kebiasaan umat Katolik untuk berdoa di gereja. Lagian, aku mesti ke gereja sore (males.com gitu lhoo), soalnya mesti mendampingi dia di sekolah minggu . Aku lebih suka ikut misa pagi. Jadi akhirnya bolong-bolong karena lebih sering diajak misa.

Play with Marvel

Kalau ikut PD Kids hari Jumat, agak ribet juga soalnya kadang nebeng tantenya yang sering harus berangkat lebih awal jam 18.00. Acara mulai jam 19.00. Kalau berangkat jam 6 sore, biasanya belum selesai makan malam. Makannya lama, disambi nonton TV (bisa lumayan anteng) or ngutak ngutik segala macem. Halah!! Mommynya cape deeeh. Nanti Vino pulang dijemput papanya. Kalau gak, ya pakai taxi (berat di ongkos lama-lama).

Di PD Kids dibedakan kelas kecil dengan besar. Kelas kecil untuk anak usia 2-4thn (atau 5 ya?). Kelas besar untuk anak SD. Sebenarnya kurang jelas juga batasan usianya.
Kadang tenaga pengajar tidak ada. Jadi bisa nganggur cukup lama. Kalau sudah gitu cuma dikasi kerjaan mewarnai. Sungguh membosankan. Dia masih di tahap corat coret. Kalau yang datang terlalu sedikit digabung ke kelas besar.


Setelah sekian lama Vino tidak ikut sekolah minggu atau PD Kids hari Jumat, kemarin aku dapat info kalau di daerah Manyar ada kegiatan sejenis hari Rabu  jam 18.00. Rencananya Rabu depan mau coba aku ikutkan. Di situ bisa ketemu dengan Gabriel 'Chubby' Merl lagi ^^.
Gabriel itu anaknya temanku yang tinggal di Aussie. Di sini Chubby tinggal sama mak-nya.
I think Vino still remember about Gabriel. Dulu pernah datang ke rumahnya ambil oleh-oleh.
It must be fun when they meet again :)

 
Gabriel Merl met Gabriel Malvino. TOSS!!













Yang terdekat dengan rumah ada Fun Friday :P
Well, actually it's the same thing, but let's call it Fun Friday :)
Hari Jumat jam 19.00-20.00.

Kemarin aku minta pembantuku buat temani kita. Sebetulnya aku perlu bantuannya di kursi belakang untuk menemani Vino, karena aku yang jadi sopirnya.  Kasihan juga, soalnya hari Jumat dia biasa ikut tantenya Vino persekutuan doa.

Awal-awal ketemu kakak pembina, biasa...gugup, mukul aku atau mau gigit (ngga beneran sih). Reaksinya kalau ketemu orang asing dan dia merasa tidak nyaman. Untungnya beberapa menit kemudian sudah mulai bisa beradaptasi.

Waktu masuk kelas, mulai mau duduk sendiri (biasanya minta pangku). Good ^^. Mungkin karena tidak terlalu banyak anak di situ. Cuma ber-5 termasuk dia. Waktu membuat tanda salib, kok tumben mau. Bikin tanda salib sendiri lagi! (meskipun masih kurang tepat, but it's a START). Sudah mulai sedikit2 meniru gerakan waktu diajak nyanyi bareng (waktu mau tidur dia masih ingat sama syairnya-sedikit sih, mommynya aja lupa hihihi). Sudah mulai menunjukkan rasa ingin tahu-nya. Lebih berani. Kalau diberi sesuatu bilang "Trim" (thanks). Kurang tertarik dengan kegiatan mewarnai, lebih tertarik mainan orotan (rautan). Dipuji keberaniannya sama kakak pembina :) Semoga minggu depan bisa datang di sini lagi.
Pulangnya dapat rejeki. Dapat teh kotak, biskuit dan McD huahahaha (ini mah buat mamanya...)

PS: Vino bahkan sudah mulai berani potong rambut. Kalau biasanya nangis-nangis udah mulai dari depan pagar, kali ini udah mau mulai duduk diam (meski dengan wajah was-was) dan dipotong tanpa nangis! (sampai setengah jalan), sisanya sama nangis n gendong mama hehe.

It's OK Vino, Mom proud of you :)
Thanks for trying ^^


Kisah Monyet dan Kuda






Alkisah, di tepi sebuah hutan, ada sekawanan monyet melihat pasukan berkuda melintas di depan mereka. Menyaksikan kegagahan para prajurit berkendara di atas pelana kuda, seekor monyet pun menyombongkan diri bahwa menunggang kuda itu masalah mudah! 
Untuk membuktikan perkataannya, saat pasukan berkuda istirahat, si monyet mengendap-endap mendekati seekor kuda di sana. Hup! Dengan lincah, si monyet naik ke atas punggung kuda.

Kuda yang merasakan hentakan berat di atas punggungnya, terkejut. Ia juga merasa kesakitan karena tarikan erat pada surainya. Maka, ia pun segera meringkik, berlari kencang, sambil menggoyangkan liar badannya ke kiri dan ke kanan. Monyet yang tidak bisa mempertahankan keseimbangan badannya, terpelanting dan jatuh ke tanah dengan keras.

Hewan-hewan lain di hutan, ramai menertawakan kebodohan si monyet. Monyet pun tertunduk malu sambil menahan rasa sakit yang menjalari tubuhnya. Ternyata menunggang kuda tidak semudah yang ia kira!


Katanya, "Kapok deh. Cukup sekali saja aku menunggang kuda! Ternyata tidak sehebat dan seenak yang aku bayangkan. Memang sudah menjadi nasibku, aku tidak akan menunggang kuda lagi seumur hidupku. Aku tidak mau mengulangi lagi kesalahan yang sama."

Saat itu, monyet yang tertua di kelompoknya menjawab, "Jatuh memang menyakitkan, tetapi bukan berarti di kemudian hari kamu tidak akan jatuh lagi, entah dari pohon dan darimana pun. Yang perlu ketahui dan dipelajari adalah mengapa kamu jatuh? Jika kita mau belajar untuk tahu kenapa bisa jatuh, maka kita tidak perlu mengulangi kesalahan yang sama di kemudian hari."
 
Pembaca yang budiman,
Manusia semasa kecil dan mulai belajar berjalan, tidak peduli berapa kali kita terjatuh, mungkin sakit dan menangis, tetapi secara alami pasti akan bangkit lagi. Melalui proses jatuh bangun, akhirnya manusia bisa berjalan dan berlari seperti sekarang.
Sayangnya justru setelah dewasa, manusia yang sudah jauh lebih pandai, saat mengalami jatuh/ gagal walaupun tanpa rasa sakit, begitu takut untuk bangkit kembali.
Selagi masih muda kita perlu belajar mengenal lebih dekat sifat kegagalan. Bagi saya sendiri, kegagalan adalah vitamin kesuksesan, tidak ada orang besar di dunia ini yang bisa sukses tanpa mengalami kegagalan! Orang-orang sukses mampu mengetahui mengapa mereka gagal, sekaligus siap memperbaiki dan berani berjuang lagi demi mensukseskan apa yang menjadi cita-cita besar mereka.
Mari, jangan takut gagal! Pelajari dan ketahui mengapa kita gagal. Dapatkan jawabannya dan tetapkan target cari cara yang paling efektif, siap menjadi pemenang sejati.


credit to: andriewongso.com


 

Friday, January 13, 2012

Kisah tentang Monyet dan Landak



 
 
Ada seekor monyet yang menjadi kepala geng diantara para binatang kecil, sifatnya sangat sombong dan nakal, selalu menimbulkan kekesalan diantara para binatang, tetapi mereka tidak berani menegurnya. 
Pada suatu hari, monyet berkata kepada kelinci, “Hari ini cuaca sangat cerah, ayo kita naik ke gunung bertamasya.” Kelinci menggelengkan kepalanya menolaknya. 
 
Monyet merasa kesal, lalu mengajak tupai,tetapi tupai juga menolak. Monyet lebih kesal lagi, lalu memutarkan badannya mengajak srigala, tetapi srigala juga tidak suka kepada monyet, dan menolaknya. Setelah ditolak oleh semua binatang kecil, monyet tidak tahu harus berbuat apa lagi, akhirnya dia dengan kesal sendirian naik ke atas gunung.

Setelah sampai diatas gunung, dia melihat seekor landak sedang menggulungkan badannya seperti sebuah bola sedang tidur siang. “hei! Hei! Bangun! Bangun saya sudah datang!.” 
“Jangan berisik! Jangan mengganggu tidur siangku!” ujar sang landak yang masing mengantuk.
“Sungguh tidak tahu diri!, badanmu begitu kecil tetapi masih sombong!, rasakan saya akan menduduki engkau seperti sebuah kursi!” Monyet menghina landak sambil duduk diatasnya.
Landak sangat marah, sambil mengibaskan badannya sehingga semua duri landaknya berdiri, “Aduh… sakit! Sakit!” sambil berteriak dan berlari monyet memegang pantatnya yang kesakitan.

Ketika seseorang menjadi terlalu sombong, memandang rendah setiap orang, dia tidak akan melihat kelemahan dirinya sendiri dan kelebihan yang dimiliki oleh orang lain. Jika kita dapat lebih banyak melihat kelebihan orang lain, lebih banyak menghormati orang lain, dan selalu intropeksi kepada diri sendiri maka orang tersebut akan dihormati orang lain juga. (Erabaru/hui)

source: erabaru.net

Wednesday, January 11, 2012

Garang asem ayam

Bahan:

Ayam/ daging lulur dalam (bisa digiling atau potong kecil-kecil)
Laos
Daun salam
3 buah belimbing wuluh
3 butir bawang merah
1 siung bawang putih besar
Kecap manis secukupnya
Air secukupnya
+- 1/2 sdt garam

Cara:
Bakar bawang merah dan bawang putih beserta kulitnya sampai agak kecoklatan. Setelah agak dingin bisa dikupas, geprek.
Didihkan air, setelah itu masukkan ayam/daging, daun salam beserta bumbu-bumbu lain.
Iris tipis-tipis belimbung wuluh, geprek sedikit agar aroma dan rasanya keluar.
Masak sampai matang. Sajikan hangat.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...