Tuesday, November 13, 2012

The Birthday Boy

Tak terasa Vino menginjak usia 3 tahun. Biasanya teman-temannya kalau ultah dirayakan di sekolah. Ada goodie bag, bagi kue, balon...pokoknya kelihatan meriah. Wah, enaknya dirayain di sekolah juga, atau makan-makan sama keluarga saja ya? Waktu ditanyakan mau dirayakan di sekolah atau nggak, dia jawab mau. Dalam hati sih bilang..."waduh...kok mau ya..." kebayang ribetnya gimana...soalnya kalo dengar cerita moms yang sudah ngerayain ultah di sekolah, mereka prepare goodie bag sendiri, dihias sendiri. Secara tidak ada PRT di rumah, jadi yang kebayang ya ribetnya itu. 
Singkat cerita, rencananya ultah Vino di sekolah dirayakan secara sederhana saja. Bagi-bagi bento. Survey Hokben dan Chubo-chubo, akhirnya pilihan jatuh ke Chubo karena lebih murah. Tidak membawa cake di sekolah (repot jalan kaki bawa cake, dan di kanan serta depan sekolah ada orang lagi bangun rumah. Debu). Biasanya dikasi cupcake. But I don't like it. Cuma menarik penampilannya saja. Tapi kurang enak, bawanya ribet (again) dan biasanya cuma dimakan beberapa gigit aja.

Beberapa hari sebelum hari H, ternyata ada temannya yang ultah. Bagi cupcake, goodie bag sama balon angry bird. Wah, kelihatan meriah sekali. Kasian juga kayaknya kalo Vino cuma bagi nasi kotak (bento kan a.k.a nasi kotak hehehe). So, mulai mikir...enaknya perayaan buat Vino ditambahi apa ya biar kelihatan meriah. Tiba-tiba ada ide, dikasi topi aja. Bisa lebih meriah, dan bisa dibawa pulang temannya. 

Mulailah hunting topi (kurang 1 minggu padahal...mepet.com). Tapi topi-topi yang dijual di tokok kebanyakan designnya jelek, bahan kurang bagus. Or, ada yang agak bagus tapi mahal. Akhirnya kuputuskan untuk membuat topi sendiri. Dadakan memang. Pulang hunting langsung buka Oom Google cari ide topi ultah. Akhirnya dapat disini. Bahannya dari sisa karton yang dulu kupakai buat bikin flash card. Hiasan dari persediaan kertas kado. Untuk topi Vino kubikin agak beda. Ujungnya diberi hiasan dari flanel (dari persediaan juga). Beli tali elastis warna warni. 1m cuma Rp 600. I think it's cheap for birthday hat. Memang 1 malam itu lembur. Tapi karena sudah diniati dan supaya Vino suka...dijalani dengan iklhas hehehe...

pola dan beberapa topi yang sudah jadi

pola

Voila! Vino's brithday hats are ready

Sorenya, makan-makan dengan keluarga di Ikan Bakar Cianjur. Black Forrest cake with his favourite toy. CARS. Pertama mauku sih dihiasi sama Francesco Bernoulli, tapi kayaknya gak ada yang jual hihihi...anything deh, pokoknya MOBIL. So, ini cakenya.
Lightning MacQueen!
Si Vino waktu foto gak tahan, noel-noel coklatnya hehehe...






Berhasil tiup sampai lilin padam

Kalau diingat-ingat, waktu Vino ultah selalu ada sentuhan hand made yang kubuat buat dia. Waktu ultah pertama, isi foto pigura dari umur 0-1tahun. Umur 2th, dibikinin scrap book (not finished yet -_-), umur 3th, bikin topi :) 
At last, HAPPY BIRTHDAY my boy, God Bless You always. Jadi anak yang baik, jujur, bertanggung jawab dan dapat diandalkan ya, dan semoga dirimu menjadi pembawa kabar baik bagi orang lain...as your name- Gabriel Malvino.

Monday, September 24, 2012

Activity: Coloring with ice

Colorful ice
Satu lagi cara untuk bermain dengan warna. Menggambar menggunakan es.
Caranya siapkan macam-macam pewarna makanan, campur dengan air dan cetak di ice tray. 
Untuk menggambar, siapkan kertas. Bisa kertas Hvs bekas atau kertas gambar polos.

Permainan ini dapat digunakan untuk  melatih sensory (dari dinginnya es), mengenalkan warna, melatih kreativitas, sekaligus mengenalkan science sederhana kepada anak, bahwa es yang berada di suhu ruang atau ditaruh di air lama-lama akan mencair. Bisa juga untuk melatih motorik anak. Setelah mencair, Vino malah mulai menyendoki air, terus berlanjut ke acara memandikan mobil :)
Mewarnai


Kalau dikasi air bagaimana ya?

Es mulai mengecil dan mencair, warnanya bercampur

Latihan scooping

Sunday, September 16, 2012

Mari Memahami Anak


"Banyak ayah bunda yang tahu anaknya, tapi sedikit yang paham akan anaknya"
Cukup menyentil kutipan tadi, mungkin aku sendiri termasuk di dalamnya dan masih terus berusaha memahami anak. Artikel ini kutemukan waktu singgah di toko mainan salah satu mall di dekat rumah. Terbagi atas beberapa seri, terbagi atas tahap perkembangan anak usia 0-11 tahun. Semoga bisa dishare secara continue di sini.

Ok, back to that quote. Pengertian 'tahu' adalah ayah bunda yang tahu anaknya terutama yang bersifat fisik saja. Sesuatu yang kasat mata, bisa dilihat dan diraba. Misalnya tahu nama anaknya, hobbynya aoa, tahu dan hafal wajah anaknya.

Lalu, apa pengertian kalimat selanjutnya, "sedikit yang paham akan anaknya"? Ini lebih dalam maknanya. Maksudnya tidak banyak ayah bunda yang paham akan anaknya, terutama berkaitan dengan sesuatu yang tidak terlihat secara fisik. Misalnya tahap perkembangan anak.


Karena ketidakpahaman inilah banyak perlakuan orang tua yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan anak. Dampaknya orang tua merasa sudah optimal, tapi anaknya tidak bisa diajak kompromi. Timbul stigma anak bandel, nakal, nggak nyambung. Anak-anak merasa ayah bundanya tidak paham apa yang mereka butuhkan, ibaratnya butuh minum, tapi malah dikasih nasi uduk. Akan dijumpai tokoh 'aku' sebagai anak yang mengatakan apa yang ia kehendaki dari ayah bunda.


Usia di bawah 3 tahun
 Jasmaniku 
  1. Sangat aktif, senang berlari dan melompat. Namun aku cepat lelah. 
  2. Otot kecilku belum berkembang sempurna, karena itu belum bisa mengatur persendian otot-otot. 
  3. Pada umumnya sudah dapat mengendalikan diri dalam membuang air besar dan kecil. 
  4. Mudah terserang penyakit. 
  5. Pita suaraku belum berkembang sempurna. 
Yang harus ayah bunda pahami 
  • Kalau berinteraksi, misalnya bercerita denganku, carilah ruang yang agak lega. 
  • Hindari memberikan aktivitas yang terlalu berat
  • Aku belum dapat mengerjakan pekerjaan tangan yang terlalu rumit. 
  • Aku belum dapat duduk dengan tenang. 
  • Masalah sering timbul karena gangguan emosiku. 
  • Jangan memaksaku untuk menyanyi dengan nada tinggi, suara yang cepat atau keras.
Mentalku 
  1. Konsentrasi lemah, mudah bosan. 
  2. Rasa ingin tahu yang besar, suka menjamah benda-benda. 
  3. Belajar melalui panca indra
  4. Menyukai hal-hal yang sudah dikenal dan senang untuk mengulang 
  5. Kosakataku masih terbatas
  6. Daya ingat masih kurang, perlu sering diulang
  7. Aku suka menggambar dan belajar melalui bermain
Yang harus ayah bunda pahami 
  • Kalau bercerita waktunya jangan lama-lama 
  • Hindarkan aku dari barang yang mudah pecah
  • Pelajaran harus disampaikan dengan alat peraga 
  • Ajak aku beraktivitas lewat hal-hal yang sudah kukenal
  • Gunakan kata-kata sederhana
  • Adakan aktivitas menggambar dalam bercerita
Emosiku
  1. Menyukai suasana yang sudah dikenal dan takut pada suasana asing
  2. Takut pada orang asing
  3. Emosi tidak stabil, lebih peka pada lingkungan sekitar 
Yang harus ayah bunda pahami  
  • Gunakan ruangan yang sudah kukenal
  • Usahakan ayah bundalah orang yang rutin berinteraksi denganku 
  • Ayah bunda harus meyakinkanku untuk aman dan nyaman
  • Penerangan ruangan yang cukup dengan warna yang lembut dan menyenangkan 
Pergaulanku
  1. Sifat ketergantungan yang masih besar dan ingin menonjolkan diri
  2. Aku yang menjadi pusat perhatian dan didahulukan'
  3. Suka mengatakan 'tidak'. Masa ini adalah masa menentang
Yang harus ayah bunda pahami 
  • Berikan pertolongan seperlunya, biarkan aku melakukan hal-hal yang kumampu
  • Ajarkan untuk berbagi dengan orang lain
  • Harus  memahami kata 'tidak' yang diucapkan, kadang-kadang berarti 'tidak dapat mengerjakan', 'tidak mengerti', atau 'mengapa'
Kerohanianku
  1. Menirukan tingkah laku orang dewasa
  2. Banyak kebenaran yang tidak dapat dipahami tapi dapat dirasakan
  3. Tahu mengucapkan syukur
  4. Sudah mulai paham tentang Tuhan dan hal-hal yang berhubungan denganNya
Yang harus ayah bunda pahami 
  • Perbanyak bacakan kitab suci dan berikan contoh dalam kehidupan sehari-hari
  • Menjaga dan pertahankan perkataan, sikap dan tingkah laku ayah bunda
  • Ajarkan soal bersyukur dan lain-lain  
  • Hands on mind (ada teori ada prakteknya) 

Monday, September 10, 2012

Activity: Matching the Shapes

Vino sudah mengenal berbagai macam bentuk dasar. Kali ini untuk selingan supaya tidak bosan main puzzle terus, aku bikinkan permainan sederhana dan murah. Bahannya juga bisa diperoleh dari properti pribadi, tidak ribet dan berkotor-kotor mengingat Vino belum sembuh benar dari batuk, jadi cari aktivitas yang bisa dikerjain di kamar saja. Idenya kudapat waktu blog walking ke sini.
 

 
Bahan:
Spidol
Kertas kalender/karton berwarna
Things around you (puzzle, ember, botol lotion, wadah pensil warna, CD, dll)

Cara:
Gambar sisi benda-benda dengan berbagai bentuk tsb dengan spidol.
Ajak si kecil mencocokkan bentuk di kertas dengan benda-benda yang tersedia.


Vino sudah mulai bisa mencocokkan dengan mudah. Good job Vino :)







Monday, August 27, 2012

Self Help: Melatih Kemandirian Anak



Mengutip sedikit dari postingan di fb Komunitas Ayah Edy


Pernah punya kipas angin dirumah...? Adakah kipas angin yg masih masih utuh bekerja sempurna dirumah...? Berapa kali sudah ganti kipas tapi tidak pernah bisa bertahan lama...?

Tidak bisa kita pungkiri lagi bahwa masa kanak2 adalah masa yg paling banyak merusak barang2 dirumah, hal ini sebenarnya mencerminkan otak anak2 yg masih orisinil dan aktif untuk mengetahui apa saja yg dia lihat dan mengekplorasi cara kerjanya setiap benda yg bergerak (elektronik), hanya sayangnya dia tidak tahu caranya atau kita lupa mengajarkan cara yg benar padanya untuk menggunakan alat tersebut.

Menghadapi hal ini kebanyakan orang tua malah memarahi atau melarang anaknya untuk menyentuh barang2 yg ada dirumah. Alhasil anak jadi makin penasaran dan tetap saja merusak barang yang akhirnya akan membuat kita jadi lebih sering marah dan stress dibuatnya.

Selain itu kebanyakan orang tua juga malah merahasiakan cara penggunaan perabot rumah tangga yg ada semisal Kipas Angin agar tidak digunakan oleh anaknya. Hasilnya ? tentu saja tinggal menunggu waktu, kapan kita lengah maka benda tersebut akan habis di "Eksplorasi" oleh anak kita. Seperti seorang tukang reparasi kecil yg memiliki semboyan "Terima Bongkar - Tapi tidak terima pasang"

Pasti banyak di antara teman-teman yang merasa cerita di atas "gue banget". Sama. Vino di usianya yang 2,5 thn ini juga menunjukkan sikap ingin melakukannya sendiri. Curiousity tinggi. Jadi daripada capek melarang, sudah mulai kuajari dengan self help sederhana. Misalnya  bikin susu sendiri. Kuajari cara penggunaan dispenser (sekalian dengan bahasa inggris). Tombol yang red untuk hot water, yang blue untuk cold water. Dulunya pernah asal pencet tombol merah dan alhasil kena air panas, untung tidak takut mencoba, mungkin karena sering nonton CD Baby Brain ya. Di situ ada pengenalan untuk hot and cold water. Jadi, yang isi air panas aku, yang isi air biasa Vino (ini kadang-kadang dibuat mainan...so jadi becek gitu lhoo >.<) Menuang susu bubuk sendiri dengan sendok susu, sekalian latihan menghitung (masih sering ngaco). Belepotan atau tumpah memang kadang bikin kesal, tapi tidak apa, tidak perlu dimarahi supaya dia tetap berani mencoba. Usaha anak untuk mencoba perlu dihargai, tidak hanya hasil akhir.

Demikian juga dengan penggunaan remote TV/DVD, buka tutup pintu, cuci tangan, siram tanaman, turun dari mobil, membuka/mengenakan celana (sudah bisa buka celana, tapi celana karet), membuka/mengenakan baju (kaos). Meskipun belum sempurna, tapi setidaknya kita dorong niatnya untuk mandiri. Kuncinya ya harus extra sabar dan telaten karena kadang malah dibuat mainan, waktu diajari tertarik objek lain, atau anaknya sendiri marah-marah karena tidak bisa. Jujur saja, sering juga aku kurang konsisten, dalam arti kalau lagi buru-buru ya dipakein baju, kalau lelet diomeli. Rencananya mau kuajari pakai baju berkancing. Sudah siap-siap beli kancing baju warna warni yang agak besar. Tinggal bikin 'baju-bajuan'.


Secara umum kemandirian bisa diukur melalui bagaimana anak bertingkah laku secara fisik. Namun, tidak hanya itu, kemandirian juga bisa berwujud pada perilaku emosional dan sosialnya. Contoh sederhana, anak usia 3-4 tahun yang sudah bisa menggunakan alat makan, seharusnya bisa makan sendiri, ini adalah bentuk kemandirian secara fisik. Anak yang bisa masuk ke kelas dengan nyaman karena mampu mengontrol dirinya adalah bentuk kemandirian emosional. Contoh kemandirian sosial yaitu apabila anak mampu berhubungan dengan orang lain secara independen sebagai individu, dan tidak selalu hanya berinteraksi dengan orang tua atau pengasuhnya.

Sebenarnya, sejak usia dini naluri setiap anak sudah menunjukkan perilaku dasar mandiri. Misalnya, pada saat masih bayi, mereka belajar untuk tengkurap, merangkak, berdiri, dan berjalan sendiri. Dalam masa itu mereka berusaha sekuat tenaga untuk bisa walaupun sering gagal dan menangis. Hal itu merupakan perilaku adaptif sesuai dengan usia anak untuk menjadi manusia yang mandiri. Hanya saja, sering kali lingkungan kurang tanggap dan kondusif terhadap proses menuju kemandirian ini sehingga anak mendapat perlakuan yang salah. Misalnya, acap kali orang tua merasa tidak tega atau kurang sabar melihat si kecil yang berusaha menautkan tali sepatunya selama beberapa saat, namun belum juga berhasil, lalu segera membantu menyelesaikan masalah tersebut. Tanpa disadari bahwa sikap semacam ini menghentikan proses menuju kemandirian yang sedang diperjuangkan sang anak. Akibatnya, anak akan terbiasa mencari orang tuanya apabila menghadapi persoalan, dan mulai tergantung pada orang lain, untuk hal-hal yang kecil sekalipun. 

Anak-anak yang tidak mandiri akan memberi pengaruh negatif terhadap perkembangan kepribadiannya sendiri. Apabila hal ini tidak segera diatasi, anak akan mengalami kesulitan pada perkembangan selanjutnya. Anak akan mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Terlebih, anak yang tidak mandiri juga akan menyusahkan orang lain.

Anak-anak yang tidak mandiri cenderung tidak percaya diri dan tidak mampu mengambil keputusan dengan baik. Sedangkan bentuk ketergantungan kepada orang lain dapat berupa; misalnya mulai dari persiapan berangkat sekolah, ketika di lingkungan sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah, sampai dalam pola belajarnya. Dalam persiapan berangkat sekolah, misalnya, anak selalu ingin dimandikan orang lain, dibantu berpakaian, minta disuapi, disiapkan buku dan peralatan sekolah oleh orang lain, termasuk harus selalu diantar ke sekolah. Ketika belajar di rumah, mereka mungkin mau, asalkan semua dilayani; misalnya anak akan menyuruh orang lain untuk mengambilkan pensil, buku, serutan dan sebagainya.

Beberapa hal umum yang perlu dihindari agar proses menuju kemandirian anak dapat berlangsung sesuai yang kita harapkan adalah:
Kekhawatiran yang berlebihan terhadap anak.
Saat anak ingin memegang gelas, sendok, atau peralatan makan, sebenarnya sudah menjadi petunjuk gejala mandiri. Sayangnya, orangtua atau pengasuh kadangkala suka melarang anak melakukan hal tersebut. Banyak alasan atas larangan itu, misalnya, karena khawatir benda yang dipegang anak akan jatuh. Tanpa disadari, larangan itu justru menghambat kesempatan anak untuk belajar mandiri.

Overprotective. Tak sedikit orangtua yang takut bila anaknya yang berusia batita melakukan hal-hal tertentu. Saat anak ingin naik-turun tangga sendiri, kerap tidak diperbolehkan, bahkan langsung digendong. Akibatnya, anak jadi penakut dan tak mampu mengontrol diri sendiri. Tak ada salahnya memperbolehkan anak naik-turun tangga sendiri, tentunya dengan diawasi dan dijaga oleh orangtua maupun pengasuhnya. Setiap anak mampu mengukur, seberapa jauh ia dapat mengontrol diri sendiri. Saat berada di ketinggian tertentu, anak mempunyai insting dasar untuk bertahan dan tidak melompat. Biarkan anak melakukan hal yang diinginkannya, tetapi tetap harus diawasi.

Kasih sayang yang berlebihan. Apapun keinginan anak dipenuhi dan dilayani. Curahan kasih sayang dengan menjadikan anak sebagai tuan kecil dalam rumah merupakan penyebab anak menjadi tidak mandiri dan manja. Tetapi, tidak ada kata terlambat untuk melatih anak menjadi mandiri. Asalkan ada kesempatan bagi anak untuk menunjukkan perilaku mandirinya. Hanya saja, akan semakin sulit manakala usia anak makin bertambah karena sebelumnya anak selalu bergantung pada orangtua dan pengasuhnya. Anak akan menuntut untuk terus dilayani, diperhatikan, hingga akhirnya sulit diubah.

Semoga sharing ini bermanfaat :)

Wednesday, August 22, 2012

Activity: Membuat kalung dari sedotan

Liburan ini, kalau pagi Vino jalan-jalan di kompleks rumah (kalau bisa bangun pagi). Lumayanlah, mumpung sepi, bisa mengamati aktivitas di luar rumah, belajar membaca angka (dari nomer rumah), sekalian berjemur supaya sehat :)

Sudah lama tidak posting mengenai aktivitas. Soalnya agak jarang juga bikin-bikin bahan yang bisa kasi kesibukan buat dia. Biasanya kalau tidak nonton TV, main puzzle (sudah mulai bisa bikin mobil-mobilan sendiri) atau ikut 'repot' petik sayur dan masak hehehe... Kali ini kucoba dengan membuat kalung dari sedotan.




Bahan:

  • Sedotan plastik merah dan biru (sesuai selera)
  • Gunting
  • 2 batang lidi
  • Benang (aku pakai benang wool)

Cara:

  1. Gunting sedotan agak panjang. Karena Vino sedang belajar menggunting, dia menggunting sedotan sendiri (tentunya di  bawah pengawasan)
  2. Ikatkan lidi di kedua ujung benang. Fungsinya buat penahan agar sedotan yang sudah dirangkai tidak lepas, satunya lagi berfungsi seperti jarum. 
  3. Masukkan ujung lidi melalui lubang sedotan. Rangkai kombinasi warna sesuai selera saja. 

Aktivitas ini bisa melatih motorik halusnya, konsentrasi, kreativitas (kalau sudah bisa membuat pola boleh juga dikombinasikan warnanya dengan pola tertentu) dan melatih emosi (harus sabar dan tekun). Vino sudah mulai bisa merangkai selang seling merah dan biru (meskipun ada juga beberapa yang missed, dan belum tau juga apakah itu kebetulan berpola atau bagaimana), dan terakhir dia agak marah-marah soalnya sedotannya lepas (*sigh). Tapi terus ada juga idenya, rangkaian yang sudah jadi gak mau dibuat kalung, tapi dibuat rodanya tank (mau dilem sama roda truk-nya)...yah, tentu aja gak bisa nempel (can you imagine that? *wink)

Tuesday, August 14, 2012

Dongeng Cindelaras


Kerajaan Jenggala dipimpin oleh seorang raja yang bernama Raden Putra. Ia didampingi oleh seorang permaisuri yang baik hati dan seorang selir yang memiliki sifat iri dan dengki. Raja Putra dan kedua istrinya tadi hidup di dalam istana yang sangat megah dan damai. Hingga suatu hari selir raja merencanakan sesuatu yang buruk pada permaisuri raja. Hal tersebut dilakukan karena selir Raden Putra ingin menjadi permaisuri.

Selir baginda lalu berkomplot dengan seorang tabib istana untuk melaksanakan rencana tersebut. Selir baginda berpura-pura sakit parah. Tabib istana lalu segera dipanggil sang Raja. Setelah memeriksa selir tersebut, sang tabib mengatakan bahwa ada seseorang yang telah menaruh racun dalam minuman tuan putri. "Orang itu tak lain adalah permaisuri Baginda sendiri," kata sang tabib. Baginda menjadi murka mendengar penjelasan tabib istana. Ia segera memerintahkan patih untuk membuang permaisuri ke hutan dan membunuhnya.

Sang Patih segera membawa permaisuri yang sedang mengandung itu ke tengah hutan belantara. Tapi, patih yang bijak itu tidak mau membunuh sang permaisuri. Rupanya sang patih sudah mengetahui niat jahat selir baginda. "Tuan putri tidak perlu khawatir, hamba akan melaporkan kepada Baginda bahwa tuan putri sudah hamba bunuh," kata patih. Untuk mengelabui raja, sang patih melumuri pedangnya dengan darah kelinci yang ditangkapnya. Raja merasa puas ketika sang patih melapor kalau ia sudah membunuh permaisuri.

Setelah beberapa bulan berada di hutan, sang permaisuri melahirkan seorang anak laki-laki. Anak itu diberinya nama Cindelaras. Cindelaras tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas dan tampan. Sejak kecil ia sudah berteman dengan binatang penghuni hutan. Suatu hari, ketika sedang asyik bermain, seekor rajawali menjatuhkan sebutir telur ayam. Cindelaras kemudian mengambil telur itu dan bermaksud menetaskannya. Setelah 3 minggu, telur itu menetas menjadi seekor anak ayam yang sangat lucu. Cindelaras memelihara anak ayamnya dengan rajin. Kian hari anak ayam itu tumbuh menjadi seekor ayam jantan yang gagah dan kuat. Tetapi ada satu yang aneh dari ayam tersebut. Bunyi kokok ayam itu berbeda dengan ayam lainnya. "Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra...", kokok ayam itu

Cindelaras sangat takjub mendengar kokok ayamnya itu dan segera memperlihatkan pada ibunya. Lalu, ibu Cindelaras menceritakan asal usul mengapa mereka sampai berada di hutan. Mendengar cerita ibundanya, Cindelaras bertekad untuk ke istana dan membeberkan kejahatan selir baginda. Setelah di ijinkan ibundanya, Cindelaras pergi ke istana ditemani oleh ayam jantannya. Ketika dalam perjalanan ada beberapa orang yang sedang menyabung ayam. Cindelaras kemudian dipanggil oleh para penyabung ayam. "Ayo, kalau berani, adulah ayam jantanmu dengan ayamku," tantangnya. "Baiklah," jawab Cindelaras. Ketika diadu, ternyata ayam jantan Cindelaras bertarung dengan perkasa dan dalam waktu singkat, ia dapat mengalahkan lawannya. Setelah beberapa kali diadu, ayam Cindelaras tidak terkalahkan.

Berita tentang kehebatan ayam Cindelaras tersebar dengan cepat hingga sampai ke Istana. Raden Putra akhirnya pun mendengar berita itu. Kemudian, Raden Putra menyuruh hulubalangnya untuk mengundang Cindelaras ke istana. "Hamba menghadap paduka," kata Cindelaras dengan santun. "Anak ini tampan dan cerdas, sepertinya ia bukan keturunan rakyat jelata," pikir baginda. Ayam Cindelaras diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu syarat, jika ayam Cindelaras kalah maka ia bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kekayaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras.

Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya. "Baiklah aku mengaku kalah. Aku akan menepati janjiku. Tapi, siapakah kau sebenarnya, anak muda?" Tanya Baginda Raden Putra. Cindelaras segera membungkuk seperti membisikkan sesuatu pada ayamnya. Tidak berapa lama ayamnya segera berbunyi. "Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra...," ayam jantan itu berkokok berulang-ulang. Raden Putra terperanjat mendengar kokok ayam Cindelaras. "Benarkah itu?" Tanya baginda keheranan. "Benar Baginda, nama hamba Cindelaras, ibu hamba adalah permaisuri Baginda."

Bersamaan dengan itu, sang patih segera menghadap dan menceritakan semua peristiwa yang sebenarnya telah terjadi pada permaisuri. "Aku telah melakukan kesalahan," kata Baginda Raden Putra. "Aku akan memberikan hukuman yang setimpal pada selirku," lanjut Baginda dengan murka. Kemudian, selir Raden Putra pun di buang ke hutan. Raden Putra segera memeluk anaknya dan meminta maaf atas kesalahannya Setelah itu, Raden Putra dan hulubalang segera menjemput permaisuri ke hutan.. Akhirnya Raden Putra, permaisuri dan Cindelaras dapat berkumpul kembali. Setelah Raden Putra meninggal dunia, Cindelaras menggantikan kedudukan ayahnya. Ia memerintah negerinya dengan adil dan bijaksana.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...